Tradisi Amaliyah Warga NU : Tahlilan - Hadiyuan Dzikir dan Ziarah Kubur

Suteja, (2015) Tradisi Amaliyah Warga NU : Tahlilan - Hadiyuan Dzikir dan Ziarah Kubur. Aksarasatu, c. ISBN -

[img]
Preview
Text
15. TRADISI AMALIYAH WARGA NU-OK.pdf

Download (3MB) | Preview
Official URL: http://www.repository.syekhnurjati.ac.id

Abstract

Abad pertama islamisasi Asia Tenggara berbarengan dengan masa merebaknya tasawuf abad pertengahan dan pertumbuhan tarekat. Beberapa tokoh yang berpengaruh secara signifikan antara lain: al-Ghazali (450-505 H./1058-111 M.), yang telah menguraikan konsep moderat tasawuf akhlaqi yang dapat diterima di kalangan para fuqaha’, Ibnu ‘Arabi (560-638 H./1164-1240 M.), yang karyanya sangat mempengaruhi ajaran hampir semua sufi, serta para pendiri tarekat semisal ‘Abd. al-Qadir al-Jaylani (470-561 H./10771-165 M.) yang ajarannya menjadi dasar tarekat Qadiriyah, Abu al-Najib al- Suhrawardi (490-563 H./1096–1167 M.), Najmudddin al-Kubra (w. 618 H./1221 M.) yang ajarannya sangat berpengaruh terhadap tarkeat Naqsyabandiyah, Abu al-Hasan al-Syadzali (560-638 H./1196-1258 M.) sufi asal Afrika dan pendiri tarekat Syadzaliyah, Bahauddin al-Bukhari al-Naqsyabandi (717-781 H./ 1317-1389 M.), dan ‘Abdullah al-Syattar (w. 832 H./ 1428 M.). Islam yang diterima orang-orang Asia Tenggara yang pertama memeluk Islam barangkali sangat diwarnai oleh berbagai ajaran dan amalan sufi. Di Indonesia dan khususnya di Jawa, awal mula perkembangan agama (Islam) adalah dalam bentuk yang sudah bercampur baur dengan unsur-unsur India dan Persia, terbungkus dalam praktik-praktik keagamaan. Islam yang datang ke Indonesia dan khususnya di Jawa adalah Islam yang bercorak sufistik. Islam datang masuk ke Indonesia melalui jalur mistisisme India dan disambut oleh kepercayaa lama yang sudah berkembang yaitu Hindu, Buddha dan anismisme. Namun lama kelamaan Islam berhasil menajdikan dirinya sebagai nafas kepercayaankepercayaan lama tersebut. Terlebih-lebih setelah berdirinya kerajaan Islam Demak dipimpin Sultan al- Fattah yang didukung sepenuhnya oleh Dewan Walisongo. Para sufi (wali), ulama dan kyai di tanah Jawa cenderung bersikap simpatik dan akomodatif terhadap tradisi budaya lokal. Tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal atau menghormati arwah para leluhur dalam agama-agama Jawa, juga dilestarikan. Bahkan sekarang mendapatkan bentuknya yang khas karena adanya islamisasi budaya. Islam berhasil melakukan akulturasi islamisasi budaya lokal. Segala bentuk tradisi dan budaya lokal tidak satupun yang luput dari usaha besar, termasuk didalamnya upacara: selametan orang yang meninggal dunia (tahlilan), upacara nujuh bulan ibu hamil, tradisi sedekah bumi, tradisi nadran, dan sebagainya. (ibnu pakar).

Item Type: Book
Subjects: Filsafat, Psikologi, Agama > BL Religion
Depositing User: suteja suteja suteja
Date Deposited: 02 Feb 2017 09:33
Last Modified: 02 Feb 2017 09:33
URI: http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/612

Actions (login required)

View Item View Item