PERSENYAWAAN ISLAM DAN SUNDA DALAM PENDEKATAN SEJARAH DAN FALSAFAH

Mustopa, and Ahmad Zaki Mubarak, (2025) PERSENYAWAAN ISLAM DAN SUNDA DALAM PENDEKATAN SEJARAH DAN FALSAFAH. CV. Pustaka Turats press, Tasikmalaya. ISBN 9786238943074

[img] Text
Islam dan Sunda.pdf

Download (1MB)

Abstract

Peradaban Sunda telah berdiri sebelum Agama Islam datang. Sunda yang memiliki sifat adaptif, sistematik dan memiliki keyakinan monoteistik telah bertemu dengan banyak pengaruh. Sunda bertemu dengan ajaran Nabi Adam dan Nuh yang disinyalir menjadi Slam Adam Wiwitan dengan institusi bernama Kapenghuluan. Aktor popoler di masa ini adalah Aki Tirem. Kemudian datang Hindu dan Budha yang melahirkan konsep Kerajaan dari Salakanagara, Tarumanagara, Galuh, Sundapura, Pakuan Padjajaran, dengan semua aktor di dalamnya terutama Prabu Siliwangi, termasuk konsep Kabuyutan dan Kamandalaan dengan konsepsi Tritangtu dan konsepsi agama Sang Hyang dan Sunda Wiwitan. Saat Islam datang secara masif, maka Sunda pun terpengaruh secara integral. Sejatinya Islam sudah masuk ke Tatar Sunda sejak Islam itu berdiri. Aktor utamanya adalah Haji Baratalegawa Purwa Galuh, termasuk Rakeyan Sancang, Prabu Borosngora dan terakhir adalah Sunan Sunan Gunung Djati anak dari Jaya Dewata Sribaduga Maharaja Prabu Siliwangi. Dengan mendirikan Kesultanan Cirebon lalu kemudian Banten, maka Padjajaran terkepung dan mulai runtuh dan berpindah ke Sumedang Larang. Karena Islam mulai menguasai seluruh Jawa termasuk pengaruh Demak dan Mataram Islam, maka Islam pun merangsek ke tatar Sunda dan menjadi agama mayoritas karena warisan Pajajaran pun menjadi Islam melalui Geusan Ulun di Sumedang. Oleh karenanya, Islam menjadi agama yang berpengaruh dan Sunda bisa beradaptasi karena keduanya bisa bersenyawa tanpa harus saling mengecilkan. Bahasa, kesenian, budaya, nilai, tradisi dilahirkan sebagai persenyawaan Sunda dan Islam. Konsep-konsep baru bermunculan sebagai sebuah identitas baru yang berbeda dengan etnik lain di Nusantara. Buku ini mengupas tentang persenyawaan Islam dan Sunda dari sudut pandang sejarah dan falsafah. Ada empat fokus yang dijadikan pijakan Sunda sebagai Objek secara ilmiah yakni berbicara tentang (1) Silib atau Siloka, (2) Sandi atau Simbol, (3) Sunyata atau Fakta dan (4) Sasmita atau Metakognisi segala sesuatu dibaliknya. Segala sesuatu yang ada dalam peradaban Sunda baik lisan, simbol maupun prilaku dianalisa menggunakan dua cara yakni menggunakan Sastrajendra dan Analisis Kritis guna menghasilkan makna sejarah dan falsafah. Karena sulitnya referensi primer dan tersebarnya mitologi, forklore dan cerita yang entah benar atau salah, tulisan ini mencoba untuk memetakan secara sistematis walau tingkat kebenarannya tidak bisa tunggal. Butuh penjelasan panjang dan metode yang lebih valid untuk mengujinya. Tentu, segala yang ada di peradaban Sunda tidak akan cukup dalam satu buku ini. Buku ini hanya salah satu buku yang berbicara tentang Persenyawaan Sunda dan Islam dan membutuhkan buku lain. Isinya sangat cocok untuk pengkaji sejarah dan filsafat terutama masyarakat yang berminat pada kajian-kajian kesundaan dan keislaman.

[error in script]
Item Type: Book
Divisions: Fakultas Pascasarjana
Depositing User: H. Tohirin S.Ag
Date Deposited: 14 Jan 2026 03:23
Last Modified: 14 Jan 2026 03:36
URI: http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/17622

Actions (login required)

View Item View Item