Khairun Nisa Abbas, (2026) SIMBOL BUDAYA JAWA DALAM PENAFSIRAN RELASI TUHAN DAN MANUSIA: STUDI ATAS TAFSIR AL-HUDA KARYA BAKRI SYAHID. Bachelor thesis, S1- IAT.
|
Text
2285130015_1_cover.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
2285130015_2_bab1.pdf Download (587kB) |
|
|
Text
2285130015_6_bab5.pdf Download (467kB) |
|
|
Text
2285130015_7_dafpus.pdf Download (476kB) |
Abstract
Penelitian ini mengkaji simbol-simbol budaya Jawa dalam Tafsir Al-Huda karya Bakri Syahid sebagai instrumen hermeneutis dalam membangun konstruksi makna relasi Tuhan dan manusia. Kajian sebelumnya tentang Tafsir Al-Huda masih didominasi oleh pendekatan linguistik dan vernakularisasi, sehingga belum mengungkap bagaimana simbol-simbol budaya Jawa bekerja secara hermeneutis dalam membentuk pemaknaan teologis dan pengalaman religius pembacanya. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menggunakan kerangka triadik mimesis hermeneutika Paul Ricoeur pre-figurasi (Mimesis I), konfigurasi (Mimesis II), dan re-figurasi (Mimesis III) sebagai pisau analisis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer bersumber dari teks Tafsir Al-Huda, khususnya penafsiran terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan relasi Tuhan dan manusia. Pemilihan ayat dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: ayat membicarakan relasi Tuhan dan manusia secara eksplisit, mencakup dimensi kedekatan Tuhan, pengabdian, atau penyerahan diri, dan terjemahan Bakri Syahid mengandung diksi atau simbol budaya Jawa yang khas dan bermakna. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, pre-figurasi Tafsir Al-Huda terbentuk dari pertemuan antara tradisi kosmologi Jawa yang kaya mencakup konsep kawula–Gusti, sangkan paraning dumadi, dan pepundhen serta latar intelektual Bakri Syahid sebagai ulama Jawa yang mewarisi sekaligus tradisi keislaman dan budaya Jawa. Kedua, proses konfigurasi menghasilkan sepuluh simbol budaya Jawa yang terbagi dalam tiga kluster: hierarki sakral (kawula Gusti, Pangeran/PanjenengaNe, pepundhen), kedekatan Tuhan (cerak anget/parek, pangridhuning ati, kaayoman), dan penyerahan batin (pasrah, dhedhepe, sukma, pitedah). Setiap simbol merupakan inovasi hermeneutis yang menghasilkan surplus of meaning kelebihan makna yang melampaui teks Arab aslinya. Ketiga, apropriasi pembaca Jawa terhadap dunia teks (world of the text) Tafsir Al-Huda menghasilkan identitas religius baru: Muslim Jawa yang Islami dalam akidah namun Jawa dalam penghayatan, dengan batas teologis yang tegas menolak manunggaling kawula Gusti. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tafsir Al-Huda bukan sekadar terjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa, melainkan jembatan hermeneutis yang membawa pembaca Jawa memasuki dunia Al-Qur'an melalui pintu budaya mereka sendiri.
| Item Type: | Thesis (Bachelor) |
|---|---|
| Subjects: | Filsafat, Psikologi, Agama > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | H. Tohirin S.Ag |
| Date Deposited: | 30 Jul 2026 03:01 |
| Last Modified: | 30 Jul 2026 03:01 |
| URI: | http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/19347 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

