Yusuf Ramdhani, (2026) Penafsiran Tabayyun dalam QS. al-Ḥujurāt Ayat 6: Studi Komparatif antara al-Taḥrīr wa al-Tanwīr dan Ṣafwah al-Tafāsīr Perspektif Hermeneutika Gadamer. Bachelor thesis, S1- IAT.
|
Text
2285130039_1_cover.pdf Download (624kB) |
|
|
Text
2285130039_2_bab1.pdf Download (330kB) |
|
|
Text
2285130039_6_bab5.pdf Download (158kB) |
|
|
Text
2285130039_7_dafpus.pdf Download (174kB) |
Abstract
Pemahaman tentang tabayyun di era digital kerap tereduksi menjadi sekadar prosedur cek fakta teknis, padahal QS. al-Ḥujurāt ayat 6 memuatnya sebagai perintah normatif yang mengandung dimensi epistemik dan etis yang jauh lebih luas. Penelitian ini mengkaji konstruksi makna tabayyun secara komparatif antara al-Taḥrīr wa al-Tanwīr karya Ibn ‘Āsyūr dan Ṣafwah al-Tafāsīr karya al-Ṣābūnī, dengan tiga tujuan utama yaitu mengonstruksi makna tabayyun menurut penafsiran masing-masing mufasir, menganalisis bagaimana perbedaan Vorverständnis dan latar sosiohistoris membentuk proses Horizontverschmelzung yang berbeda, serta merumuskan implikasi etis-kontekstual bagi pembaca masa kini di era disrupsi digital. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan jenis library research dan menggunakan metode tafsir muqāran yang dipadu dengan kerangka hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer sebagai pisau analisis. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, Ibn ‘Āsyūr mengonstruksi makna tabayyun secara ekspansif-institusional melalui analisis delapan dimensi gramatikal, kewajiban bilateral yang mengikat penerima sekaligus penyampai berita, dan mengekstrak empat persoalan fiqh dan uṣūl al-fiqh, sementara al-Ṣābūnī mengonstruksinya secara efisien-individual dengan menyampaikan pesan inti yang ringkas dan langsung dapat diamalkan. Kedua, perbedaan konstruksi makna tersebut bukan bersifat acak, melainkan dapat dijelaskan secara sistematis melalui perbedaan Vorverständnis masing-masing mufasir yang menghasilkan dua karakter Horizontverschmelzung yang berbeda, yakni aktif-transformatif pada Ibn ‘Āsyūr dan selektif-komunikatif pada al-Ṣābūnī. Ketiga, komparasi keduanya menghasilkan kerangka etika informasi Qur’ani yang berlapis tiga, yaitu etika individual yang mewajibkan verifikasi sebelum bertindak, etika sosial yang menegaskan tanggung jawab penyampai berita, dan etika institusional yang menuntut diinstitusionalisasikannya prinsip tabayyun dalam regulasi tata kelola informasi publik.
| Item Type: | Thesis (Bachelor) |
|---|---|
| Subjects: | Filsafat, Psikologi, Agama > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | H. Tohirin S.Ag |
| Date Deposited: | 30 Jul 2026 04:55 |
| Last Modified: | 30 Jul 2026 04:55 |
| URI: | http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/19371 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

