PENAFSIRAN AYAT-AYAT EKOLOGI TENTANG FASAD FI AL�ARDH (STUDI KOMPARATIF TAFSIR AL-JAWAHIR FI TAFSIR AL�QUR’AN AL-KARIM KARYA TANTAWI JAWHARI DAN TAFSIR AL�QUR’AN AL -KARIM KARYA MUHYIDDIN IBNU ARABI)

ZAINAL MULKI, (2026) PENAFSIRAN AYAT-AYAT EKOLOGI TENTANG FASAD FI AL�ARDH (STUDI KOMPARATIF TAFSIR AL-JAWAHIR FI TAFSIR AL�QUR’AN AL-KARIM KARYA TANTAWI JAWHARI DAN TAFSIR AL�QUR’AN AL -KARIM KARYA MUHYIDDIN IBNU ARABI). Bachelor thesis, S1- IAT.

[img] Text
2285130064_1_cover.pdf

Download (956kB)
[img] Text
2285130064_2_bab1.pdf

Download (360kB)
[img] Text
2285130064_6_bab5.pdf

Download (114kB)
[img] Text
2285130064_7_dafpus.pdf

Download (131kB)

Abstract

Krisis ekologi yang melanda dunia saat ini tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia yang gagal menjalankan tanggung jawabnya sebagai khalifah di bumi. Al-Qur'an telah jauh-jauh hari memperingatkan hal ini melalui konsep fasad fi al-ardh, yakni kerusakan yang terjadi di bumi akibat tangan manusia sendiri. Penelitian ini bertujuan mengetahui persamaan dan perbedaan penafsiran ayat-ayat ekologi tentang fasad fi al-ardh dalam dua kitab tafsir yang berbeda corak, yaitu Tafsir Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur'an Al￾Karim karya Tantâwî Jauharî yang bercorak ilmiah-rasional, dan Tafsir Al￾Qur'an Al-Karim karya Muhyiddin Ibnu ‘Arabi yang bercorak sufistik￾metafisis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis kajian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir komparatif (muqāran) dan kerangka filsafat perbandingan epistemologi Islam sebagai pisau analisis. Ayat-ayat yang dikaji meliputi QS. Al-A’raf: 56, QS. Ar-Rum: 41, QS. Al-Baqarah: 205, QS. Al-Baqarah: 11-12, QS. Al-Mulk: 15, QS. Al￾A'raf: 85, QS. Al-Ma'idah: 64, QS. Al-Qashash: 77, dan QS. Asy-Syu’ara’: 183. Sumber data primer adalah kedua kitab tafsir tersebut, sedangkan sumber sekunder mencakup jurnal, buku, dan penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan penafsiran kedua mufasir hanya dapat dilakukan secara utuh pada tiga ayat yang sama-sama mereka tafsirkan, yaitu QS. Al-Baqarah ayat 205, QS. Al-Baqarah ayat 11–12, dan QS. Al-Mulk ayat 15, sementara ayat-ayat lain hanya ditafsirkan oleh Tantâwî Jauharî. Persamaan keduanya terletak pada pandangan bahwa fasad fi al-ardh merupakan penyimpangan dari kehendak Allah sekaligus cerminan rusaknya moral pelaku, dan bahwa pelaku kerusakan kerap menampilkan diri sebagai pembawa kebaikan padahal perbuatannya bertentangan dengan ajaran Allah. Adapun perbedaan keduanya ditelaah melalui tiga aspek, yaitu sumber, metode, dan implikasi penafsiran. Pada aspek sumber dan metode, keduanya sama-sama berpijak pada teks (bayani), tetapi Tantâwî Jauharî mengembangkannya dengan akal dan bukti empiris (burhani) melalui tafsir ilmi, sedangkan Ibnu ‘Arabi menempuh penyingkapan batin (irfani/kashf) melalui tafsir isyari. Pada aspek implikasi, penafsiran Tantâwî Jauharî yang menonjolkan dimensi lahiriah melahirkan etika lingkungan yang praktis, sementara penafsiran Ibnu ‘Arabi yang menonjolkan dimensi batin menyingkap akar spiritual dari kerusakan. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan dapat dipadukan dalam satu kerangka etika ekologi Qur’ani yang utuh.

[error in script]
Item Type: Thesis (Bachelor)
Subjects: Filsafat, Psikologi, Agama > BL Religion
Divisions: Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: H. Tohirin S.Ag
Date Deposited: 30 Jul 2026 07:26
Last Modified: 30 Jul 2026 07:26
URI: http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/19390

Actions (login required)

View Item View Item