Rona Ningsih, (2026) RELASI PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI DALAM PANDANGAN KH. HUSEIN MUHAMMAD. Bachelor thesis, S1- AFI.
|
Text
1908303014_1_cover.pdf Download (992kB) |
|
|
Text
1908303014_2_bab1.pdf Download (380kB) |
|
|
Text
1908303014_6_bab5.pdf Download (438kB) |
|
|
Text
1908303014_7_dafpus.pdf Download (450kB) |
Abstract
Perbedaan pandangan antara laki-laki dan perempuan dikehidupan kita memicu banyak perbedaan pendapat, tentang bagaimana relasi yang baik antara laki-laki dan perempuan, dan bagaimana kita bisa menciptakan relasi yang egaliter dalam kehidupan ini. Tentang pandangan perempuan bekerja dipublik. Sehingga penulis mengambil tokoh KH Husein Muhammad, seorang tokoh Nahdlatul Ulama dan aktivis perempuan, memiliki pandangan yang progresif tentang relasi perempuan dan laki-laki. Dan bagaimana KH.Husein Muhammad menciptakan strategi yang egaliter dalam relasi laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana objek alamiah yang menjadi bahan penelitiannya. Penelitian ini merupakan field reseach, maka sumber primernya adalah pandangan KH. Husein Muhammad serta didukung oleh jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Dalam pandangannya, relasi antara perempuan dan laki-laki harus didasarkan pada prinsip kesetaraan, keadilan, dan saling menghormati. Ia menolak pandangan patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai superior dan perempuan sebagai inferior. Menurutnya, perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam masyarakat. Relasi merupakan hubungan sosial antar manusia, dimana relasi tersebut menentukan struktur masyarakat. Relasi sosial ini didasarkan pada komunikasi antar individu dalam masyarakat. Oleh karena itu dapat disebutkan bahwa komunikasi merupakan dasar eksistensi suatu kelompok masyarakat. Pandangan KH. Husein Muhammad terhadap perempuan dan laki-laki dalam bekerja adalah adanya kesetaraan hak dan kewajiban, dimana perempuan memiliki potensi dan hak yang sama untuk bekerja dan berkontribusi diranah publik maupun domestik, dengan catatan tidak mengabaikan kodratnya serta harus didasari atas pilihan, bukan peran perempuan, dan berpendapat bahwa Islam tidak melarang perempuan bekerja selama sesuai syariat. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap egaliter terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain dengan hormat dan adil, tanpa membeda-bedakan. Misalnya, seorang pemimpin yang mendengarkan pendapat bawahannya dengan serius menunjukkan sikap egaliter. Sikap egaliter membantu menciptakan lingkungan yang harmonis dan adil dengan menghargai setiap individu. Salah satu konsep krusial dalam menciptakan keadilan sosial yang langgeng adalah adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan ini dibentuk oleh nilai-nilai, norma, sera budaya dalam masyarakat, bukan berasal dari sifat bawaan manusia.
| Item Type: | Thesis (Bachelor) |
|---|---|
| Subjects: | Filsafat, Psikologi, Agama > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Filsafat Agama |
| Depositing User: | H. Tohirin S.Ag |
| Date Deposited: | 28 Jul 2026 06:47 |
| Last Modified: | 28 Jul 2026 07:03 |
| URI: | http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/19298 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

