Nuni Ainur Rahmania, (2026) PEMAKNAAN ULĪ AL-‘AMR DALAM QS AL-NISĀ’ [4]: 59 DAN 83: STUDI TAFSIR PRA DAN PASCA KEMERDEKAAN INDONESIA. Bachelor thesis, S1- IAT.
|
Text
2285130001_1_cover.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
2285130001_2_bab1.pdf Download (440kB) |
|
|
Text
2285130001_6_bab5.pdf Download (188kB) |
|
|
Text
2285130001_7_dafpus.pdf Download (227kB) |
Abstract
Penafsiran al Qur’an tidak pernah terlepas dari pengaruh konteks sosial, politik, dan intelektual yang melingkupi mufasir. Konsep Ulī al ‘Amr dalam QS. al Nisā’ [4]: 59 dan 83 merupakan salah satu tema yang erat kaitannya dengan persoalan otoritas dan keku asaan, sehingga pemaknaannya cenderung mengalami pergeseran sesuai dengan kondisi zaman. Penelitian ini mengkaji dua karya tafsir Nusantara yang berasal dari periode berbeda, yaitu Tafsir al Furqan karya Ahmad Hassan sebagai representasi masa prakemerdekaa n dan Tafsir al Huda karya Bakri Syahid sebagai representasi masa pascakemerdekaan. Perbedaan latar historis kedua mufasir tersebut menjadi dasar untuk menelaah konstruksi makna Ulī al --‘Amr dalam konteks yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengan alisis pemaknaan Ulī al ‘Amr dalam kedua tafsir tersebut serta mengungkap pengaruh konteks sosial, politik, dan intelektual mufasir terhadap pembentukan makna tersebut. Penelitian menggunakan kerangka History of Ideas Arthur O. Lovejoy yang dioperasionalka n melalui lima elemen analisis, yaitu unconscious mental habits, endemic assumptions, metaphysical pathos, philosophical semantics, dan proposition. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis library research dengan pendekatan analisis his toris dan analisis isi terhadap sumber primer maupun sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahmad Hassan memaknai Ulī al --‘Amr sebagai “ketua”, yang mencerminkan realitas organisasi pergerakan pada masanya. Penafsiran tersebut menempatka n Islam sebagai dasar normatif dalam penyelenggaraan negara sehingga peraturan yang berlaku tidak bertentangan dengan syariat, dan dengan demikian berfungsi sebagai kerangka pembatas kekuasaan. Sebaliknya, Bakri Syahid memaknai Ulī al --‘Amr sebagai pemerint ah dalam sistem Demokrasi Pancasila dengan mengintegrasikan wacana pembangunan Orde Baru ke dalam penafsirannya, sehingga tafsirnya berfungsi sebagai kerangka legitimasi terhadap otoritas negara. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan pemaknaan Ulī al --‘Amr dalam kedua tafsir tersebut terbentuk melalui interaksi antara konteks sosial politik, tradisi intelektual, dan posisi institusional masing masing mufasir.
| Item Type: | Thesis (Bachelor) |
|---|---|
| Subjects: | Filsafat, Psikologi, Agama > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | H. Tohirin S.Ag |
| Date Deposited: | 28 Jul 2026 08:39 |
| Last Modified: | 28 Jul 2026 08:39 |
| URI: | http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/19326 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

