AKULTURASI ISLAM DAN TRADISI LOKAL DALAM UPACARA MAPAG SRI DI DESA SLANGIT, KABUPATEN CIREBON (1980–2024)

Syamsul Ma'arif, (2026) AKULTURASI ISLAM DAN TRADISI LOKAL DALAM UPACARA MAPAG SRI DI DESA SLANGIT, KABUPATEN CIREBON (1980–2024). Bachelor thesis, S1- SPI.

[img] Text
2285110015_1_cover.pdf

Download (807kB)
[img] Text
2285110015_2_bab1.pdf

Download (386kB)
[img] Text
2285110015_6_bab5.pdf

Download (236kB)
[img] Text
2285110015_7_dafpus.pdf

Download (279kB)

Abstract

Upacara Mapag Sri merupakan salah satu tradisi agraris yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Slangit, Kabupaten Cirebon. Tradisi ini berkembang dari kepercayaan masyarakat agraris yang berkaitan dengan penghormatan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan keberhasilan panen. Seiring berkembangnya ajaran Islam di tengah masyarakat, tradisi Mapag Sri mengalami berbagai penyesuaian tanpa menghilangkan unsur-unsur budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah Upacara Mapag Sri, menganalisis proses akulturasi Islam dengan tradisi lokal, serta menjelaskan bentuk perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan tradisi tersebut pada periode 1980–2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, pemerintah desa, dan masyarakat Desa Slangit, serta dokumentasi berbagai sumber tertulis yang berkaitan dengan tradisi Mapag Sri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Upacara Mapag Sri tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen sekaligus sebagai sarana pelestarian budaya lokal. Proses akulturasi Islam berlangsung melalui penyesuaian berbagai unsur tradisi, seperti penggunaan doa-doa Islam, tahlil, dzikir, dan keterlibatan tokoh agama dalam pelaksanaan upacara. Kehadiran ajaran Islam juga memberikan pemaknaan baru terhadap simbol-simbol budaya yang sebelumnya berkaitan dengan sistem kepercayaan agraris, sehingga orientasi tradisi bergeser menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Akulturasi tersebut tidak menghilangkan identitas budaya lokal, tetapi menghasilkan perpaduan yang harmonis antara nilai-nilai Islam dan tradisi masyarakat agraris. Oleh karena itu, Tradisi Mapag Sri tetap bertahan dan terus diwariskan hingga tahun 2024.

[error in script]
Item Type: Thesis (Bachelor)
Subjects: Ilmu Sejarah > Sejarah Peradaban
Divisions: Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah > Sejarah Kebudayaan Islam
Depositing User: H. Tohirin S.Ag
Date Deposited: 03 Aug 2026 03:54
Last Modified: 03 Aug 2026 03:54
URI: http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/19476

Actions (login required)

View Item View Item