MUHAMMAD HILMAN ABDUL GHANI, (2026) ANALISIS PENDAPAT WAHBAH AL-ZUHAILI TENTANG PENOLAKAN HUBUNGAN SEKSUAL PASANGAN SUAMI ISTRI DALAM PERSPEKTIF QIRĀ’AH MUBĀDALAH. Bachelor thesis, S1- Hukum Keluarga Islam UIN SSC.
|
Text
2008201064_1_cover.pdf Download (917kB) |
|
|
Text
2008201064_2_bab1.pdf Download (432kB) |
|
|
Text
2008201064_6_bab5.pdf Download (228kB) |
|
|
Text
2008201064_7_dafpus.pdf Download (265kB) |
Abstract
Perkawinan dalam Islam mengandaikan relasi suami istri yang setara dalam pemenuhan hak dan kewajiban, termasuk dalam aspek seksual. Namun, konstruksi fikih klasik sering menempatkan istri pada posisi subordinat, khususnya terkait larangan menolak ajakan seksual suami tanpa alasan syar‘i, yang dalam praktiknya berpotensi melanggengkan ketimpangan relasi. Tulisan ini menyoroti problem tersebut melalui pendekatan qirā’ah mubādalah yang menekankan prinsip kesalingan. Perspektif ini merekonstruksi pemaknaan teks keagamaan dengan menempatkan pemenuhan kebutuhan seksual sebagai hak bersama yang bersifat timbal balik. Dengan demikian, relasi seksual dalam perkawinan harus dipahami dalam kerangka keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat kedua belah pihak. Penelitian ini bertujuan menganalisis penolakan hubungan seksual dalam perkawinan menurut perspektif qirā’ah mubādalah, mengkaji pandangan Wahbah al-Zuhaili, serta menilai relevansinya dalam kerangka kesalingan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan normatif berbasis studi kepustakaan, dengan sumber primer berupa karya Wahbah al-Zuhaili dan didukung literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wahbah al-Zuhaili memandang hubungan seksual sebagai hak bersama (haq musytarak) antara suami dan istri, bukan hak eksklusif suami. Ia mewajibkan pelaksanaan hubungan seksual yang dilandasi prinsip mu'āsyarah bil ma'rūf (pergaulan yang baik), menolak segala bentuk paksaan dan kekerasan, serta membenarkan penolakan istri apabila terdapat uzur syar'i seperti sakit atau kondisi yang membahayakan. Selain itu, beliau menguatkan pendapat jumhur ulama yang mewajibkan suami secara berkelanjutan memenuhi kebutuhan biologis istri. Sementara itu, perspektif qirā'ah mubādalah menafsirkan hadits tentang laknat bagi istri yang menolak ajakan suami secara kontekstual dan resiprokal, yakni kewajiban melayani berlaku timbal balik bagi keduanya. Analisis ini menunjukkan bahwa pandangan Wahbah al-Zuhaili secara substansial selaras dengan prinsip-prinsip mubādalah dalam hal kesalingan hak seksual, larangan kekerasan, dan kewajiban saling memenuhi kebutuhan pasangan. Kata Kunci: Qirā’ah Mubādalah, Wahbah al-Zuhaili, Hak Seksual, mu'āsyarah bil ma'rūf i
| Item Type: | Thesis (Bachelor) |
|---|---|
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam > Hukum Keluarga Islam (Al-Ahwal Al-Syahsyiyyah) |
| Depositing User: | Eka Cahya Nugraha |
| Date Deposited: | 14 Jul 2026 06:41 |
| Last Modified: | 14 Jul 2026 06:41 |
| URI: | http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/18400 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

