PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONINCON (CONSTRUCTIVISME, INTEGRATIF, AND CONTEXTUAL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA

MUCHAMMAD MUARIEF, (2026) PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONINCON (CONSTRUCTIVISME, INTEGRATIF, AND CONTEXTUAL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA. Bachelor thesis, S1 - Tadris Matemetika.

[img] Text
2281050009_1_cover.pdf

Download (1MB)
[img] Text
2281050009_2_bab1.pdf

Download (306kB)
[img] Text
2281050009_6_bab5.pdf

Download (239kB)
[img] Text
2281050009_7_dafpus.pdf

Download (247kB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons siswa terhadap penerapan model pembelajaran CONINCON, mengukur kemampuan berpikir kritis matematis siswa setelah penerapannya, serta membuktikan ada tidaknya pengaruh signifikan model pembelajaran CONINCON terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Model pembelajaran CONINCON (Constructivisme, Integratif, and Contextual) dikembangkan oleh Saminanto et al. (2018) sebagai model pembelajaran yang mengintegrasikan, yaitu konstruktivisme, integratif, dan kontekstual, yang dirancang untuk menciptakan proses pembelajaran yang aktif, bermakna, dan relevan dengan kehidupan siswa. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain post-test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari 64 siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Sumber, Kabupaten Cirebon, yang dibagi menjadi kelas eksperimen (VIII-E) dan kelas kontrol (VIII A), masing-masing berjumlah 32 siswa, dipilih melalui teknik cluster random sampling. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran dengan model CONINCON yang mencakup lima fase, yaitu orientasi konstruk, konstruk, integratif, kontekstual, dan refleksi pada materi relasi dan fungsi, sedangkan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian terdiri dari angket respons siswa (35 pernyataan skala Likert), tes uraian kemampuan berpikir kritis matematis (10 soal) berdasarkan indikator Facione (2015) yang meliputi interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, dan eksplanasi, serta lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang memuat 21 butir kegiatan berdasarkan lima fase model CONINCON dengan skala penilaian 1–4. Hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran selama tujuh pertemuan menunjukkan persentase keterlaksanaan berkisar antara 88,10% hingga 95,24% dengan rata-rata 91,67%, seluruhnya dalam kategori Sangat Baik. Tingginya persentase keterlaksanaan ini mengonfirmasi bahwa perbedaan hasil kemampuan berpikir kritis matematis antara kedua kelas merupakan dampak nyata dari penerapan model CONINCON yang berjalan secara sistematis dan konsisten, bukan disebabkan oleh faktor lain di luar proses pembelajaran. Selain data keterlaksanaan pembelajaran, penelitian ini juga mengukur respons siswa terhadap penerapan model CONINCON melalui angket yang diberikan di akhir seluruh pertemuan. Hasil analisis angket respons siswa menggunakan kriteria kategorisasi menurut Widoyoko (2016) dengan nilai rerata ideal (Mi) = 60 dan simpangan baku ideal (Sbi) = 13,33, diperoleh kriteria: skor x ≥ 84 dikategorikan Sangat Baik, skor antara 68 < x ≤ 84 dikategorikan Baik, skor antara 52 < x ≤ 68 dikategorikan Cukup, skor antara 40 < x ≤ 52 dikategorikan Kurang, dan skor x ≤ 40 dikategorikan Sangat Kurang. Berdasarkan kriteria tersebut, rata-rata skor kumulatif respons siswa sebesar 70 berada pada kategori Baik. Dari kelima indikator yang diukur, indikator minat memperoleh rata-rata skor tertinggi sebesar (73), diikuti motivasi (70), kepuasan (69), penilaian (69), dan tanggapan umum (68) sebagai satu-satunya indikator berkategori Cukup. Capaian indikator motivasi dan tanggapan umum yang relatif lebih rendah disebabkan oleh belum terbiasanya siswa berpindah dari pola pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru (teacher-centered) menuju pembelajaran aktif, serta fase integratif yang merupakan pengalaman baru bagi siswa dalam mengaitkan konsep matematika dengan disiplin ilmu lain sehingga sempat menimbulkan kebingungan dan menurunkan semangat belajar sebagian siswa. Rata-rata skor kemampuan berpikir kritis matematis kelas eksperimen mencapai 75,34, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang memperoleh rata-rata 64,75. Adapun Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran matematika di SMP Negeri 2 Sumber ditetapkan sebesar 75, sehingga rata-rata kelas eksperimen telah melampaui KKM meskipun dengan selisih yang tipis, sedangkan rata-rata kelas kontrol masih berada di bawah KKM. Kondisi kedua kelas yang belum mencapai nilai maksimal disebabkan oleh perbedaan karakteristik internal siswa seperti gaya kognitif dan tingkat kepercayaan diri yang bervariasi antar individu, sehingga respons setiap siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya tidak seragam meskipun model pembelajaran yang diterima sama. Kelas eksperimen mengungguli kelas kontrol pada empat dari lima indikator, yaitu interpretasi (82,81 > 75,00), analisis (76,56 > 71,88), evaluasi (75,94 > 65,63), dan inferensi (67,19 > 51,56). Ketiga indikator pertama, yaitu interpretasi, analisis, dan evaluasi, secara berturut-turut dikembangkan melalui fase orientasi konstruk, fase konstruk, dan fase integratif yang mendorong siswa aktif mengkaji, menelaah, dan menilai informasi secara mendalam. Adapun indikator inferensi belum mencapai nilai optimal karena kemampuan ini merupakan proses kognitif yang paling dipengaruhi oleh gaya kognitif masing-masing siswa, di mana variasi gaya kognitif field-dependent dan field-independent di kelas eksperimen turut memengaruhi capaian rata-ratanya. Indikator eksplanasi tidak termasuk dalam daftar keunggulan kelas eksperimen karena pada indikator ini kelas kontrol justru lebih unggul (80,94 > 74,06), yang disebabkan oleh karakteristik pembelajaran konvensional yang secara intensif melatih siswa menjelaskan langkah-langkah penyelesaian secara prosedural melalui latihan berulang, sementara model CONINCON lebih memprioritaskan pemahaman konseptual mendalam sehingga aspek eksplanasi prosedural kurang terlatih secara eksplisit. Indikator eksplanasi tetap diukur dan dilaporkan secara lengkap dalam penelitian ini. Hasil uji independent sample t-test (Equal Variances Not Assumed) menunjukkan nilai signifikansi 0,005 (p ≤ 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan penerapan model pembelajaran CONINCON terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Penelitian ini berkontribusi dalam mengisi celah literatur pendidikan matematika yang belum mengkaji pengaruh model CONINCON secara spesifik terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, serta memberikan panduan praktis bagi guru dalam memilih model pembelajaran yang mendorong kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

[error in script]
Item Type: Thesis (Bachelor)
Subjects: Pendidikan > Pendidikan (Umum)
Divisions: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan > 4. Tadris Matematika
Depositing User: Eka Cahya Nugraha
Date Deposited: 30 Jul 2026 08:42
Last Modified: 30 Jul 2026 08:42
URI: http://repository.syekhnurjati.ac.id/id/eprint/19400

Actions (login required)

View Item View Item